Dalam beberapa tahun terakhir, istilah konsen (consent) dan boundaries semakin sering digunakan dalam diskusi tentang hubungan, psikologi, hukum, hingga kehidupan sosial sehari-hari. Banyak orang menganggap kedua konsep ini sebagai produk budaya Barat modern. Sebagian lainnya melihatnya sebagai bagian dari kesadaran baru tentang hak individu dan kesehatan mental.
Namun, apakah benar konsep ini sepenuhnya baru? Apakah ia harus diterapkan secara seragam kepada semua orang? Dan bagaimana posisi konsep ini dalam konteks masyarakat Indonesia yang cenderung kolektif?
Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang definisi, sejarah, perkembangan, hingga penerapan konsep konsen dan boundaries dalam kehidupan modern, serta bagaimana kita bisa memahaminya secara bijak dan kontekstual.
Apa Itu Konsen (Consent)?
Secara sederhana, konsen adalah persetujuan yang diberikan secara sadar, sukarela, dan jelas terhadap suatu tindakan yang melibatkan diri seseorang. Konsen bukan sekadar ucapan “iya”, tetapi keputusan yang lahir dari kesadaran penuh tanpa tekanan, manipulasi, atau paksaan.
Dalam praktiknya, konsen memiliki beberapa unsur penting:
- Sukarela: Tidak ada ancaman atau tekanan.
- Sadar dan paham: Mengerti apa yang disetujui.
- Jelas dan eksplisit: Tidak diasumsikan dari diam.
- Bisa ditarik kapan saja: Seseorang boleh berubah pikiran.
- Spesifik: Setuju pada satu hal bukan berarti setuju pada semuanya.
Konsen berlaku dalam banyak konteks, seperti hubungan pribadi, pernikahan, kontrak kerja, tindakan medis, hingga penggunaan data digital.
Sejarah Perkembangan Konsep Konsen
Secara historis, gagasan tentang persetujuan bukanlah hal baru. Dalam filsafat politik Eropa abad ke-17, tokoh seperti John Locke dan Jean-Jacques Rousseau mengembangkan konsep “persetujuan rakyat” sebagai dasar legitimasi kekuasaan negara. Pemerintah dianggap sah karena ada persetujuan dari rakyat yang diperintah.
Dalam hukum Romawi kuno, kontrak hanya dianggap sah jika ada kesepakatan dari kedua belah pihak. Prinsip ini menjadi fondasi hukum modern tentang perjanjian dan transaksi.
Perkembangan penting lainnya terjadi setelah Perang Dunia II, khususnya setelah pengadilan kejahatan perang di Nuremberg. Dunia internasional menekankan pentingnya informed consent dalam praktik medis. Sejak saat itu, tindakan medis tanpa persetujuan pasien dianggap pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia.
Di era kontemporer, konsep konsen semakin berkembang dalam diskusi tentang kekerasan, relasi kuasa, dan perlindungan individu.
Apa Itu Boundaries?
Jika konsen berbicara tentang persetujuan terhadap suatu tindakan, maka boundaries adalah batasan pribadi yang kita tetapkan untuk menjaga kenyamanan, nilai, waktu, energi, dan kesehatan mental kita.
Boundaries adalah cara seseorang mengatakan, “Ini batas saya, dan saya ingin dihormati.”
Berbeda dengan konsen yang banyak berkembang dari tradisi hukum dan politik, konsep boundaries lahir dari perkembangan psikologi modern abad ke-20.
Jenis-Jenis Boundaries
1. Batas Emosional
Melindungi perasaan dan kesehatan mental dari manipulasi, gaslighting, atau tekanan emosional.
2. Batas Fisik
Mengatur ruang pribadi dan sentuhan.
3. Batas Waktu
Menentukan kapan dan seberapa banyak waktu yang kita berikan kepada orang lain.
4. Batas Digital
Mengatur privasi online, unggahan foto, serta komunikasi melalui media sosial.
5. Batas Finansial dan Material
Menentukan bagaimana uang dan barang pribadi digunakan.
Asal-Usul Boundaries dalam Psikologi
Konsep boundaries berkembang dari teori psikologi dan terapi keluarga. Pemikir seperti Sigmund Freud membahas struktur ego dan batas antara diri dengan orang lain. Kemudian teori sistem keluarga menekankan pentingnya diferensiasi diri — kemampuan seseorang untuk tetap menjadi individu tanpa larut dalam tekanan emosional kelompok.
Budaya individualistik Barat memberi ruang besar bagi konsep ini karena menekankan otonomi pribadi. Namun, masyarakat kolektif sebenarnya juga memiliki batasan sosial, meski tidak selalu menggunakan istilah “boundaries”.
Apakah Konsep Ini Harus Dipaksakan?
Ini pertanyaan penting. Tidak semua konsep harus diterapkan secara seragam dalam setiap budaya. Namun, ada nilai dasar dalam konsen dan boundaries yang bersifat universal, seperti:
- Tidak memaksa orang lain.
- Menghormati kehendak individu.
- Tidak melanggar hak pribadi.
Yang perlu disesuaikan adalah cara komunikasi dan penerapannya dalam konteks sosial dan budaya tertentu.
Konteks Indonesia dan Budaya Kolektif
Indonesia adalah masyarakat yang cenderung kolektif. Nilai kekeluargaan, gotong royong, dan rasa sungkan sangat kuat. Dalam budaya seperti ini, mengatakan “tidak” sering kali dianggap tidak sopan.
Karena itu, penerapan boundaries perlu dilakukan dengan bijak dan santun. Misalnya, seseorang bisa berkata:
“Maaf, saya belum bisa membantu sekarang.”
Alih-alih menolak secara konfrontatif, pendekatan yang lebih halus sering kali lebih efektif dalam konteks budaya Indonesia.
Perbedaan Antara Boundaries dan Mengontrol Orang Lain
Boundaries bukanlah upaya untuk mengendalikan orang lain. Boundaries adalah pengaturan terhadap diri sendiri.
Contoh kontrol:
“Kamu tidak boleh berteman dengan siapa pun.”
Contoh boundaries:
“Jika kamu bersikap tidak setia, saya tidak bisa melanjutkan hubungan ini.”
Perbedaannya terletak pada fokusnya: mengatur diri sendiri atau mengatur orang lain.
Mengapa Konsen dan Boundaries Penting?
Tanpa konsen, relasi bisa berubah menjadi dominasi. Tanpa boundaries, seseorang bisa kehilangan identitas dan kelelahan secara emosional.
Manfaatnya antara lain:
- Mencegah penyalahgunaan kuasa.
- Mengurangi konflik interpersonal.
- Meningkatkan kesehatan mental.
- Menciptakan relasi yang lebih sehat.
- Menguatkan rasa saling menghormati.
Kesalahpahaman Umum
1. Boundaries Itu Egois
Tidak benar. Boundaries justru membuat relasi lebih sehat karena jelas dan jujur.
2. Konsen Itu Hanya Soal Hubungan Intim
Konsen berlaku dalam banyak aspek kehidupan, termasuk pekerjaan dan dunia digital.
3. Boundaries Berarti Tidak Peduli Orang Lain
Boundaries bukan penolakan terhadap tanggung jawab sosial, melainkan pengaturan yang sehat agar tidak terjadi eksploitasi.
Menemukan Keseimbangan
Kunci dari konsep konsen dan boundaries bukanlah ekstrem individualisme, melainkan keseimbangan antara hak pribadi dan tanggung jawab sosial.
Seseorang bisa tetap menghormati orang tua, keluarga, dan komunitas, sambil tetap memiliki batas yang sehat.
Dalam konteks profesional, boundaries membantu mencegah burnout. Dalam konteks keluarga, ia mencegah konflik berkepanjangan. Dalam konteks sosial, ia menciptakan rasa aman dan saling percaya.
Penutup
Konsep konsen dan boundaries bukan sekadar tren modern. Ia memiliki akar sejarah panjang dalam hukum, filsafat, dan psikologi. Meskipun istilahnya berkembang di Barat, nilai dasarnya — menghormati kehendak dan martabat manusia — bersifat universal.
Namun, penerapannya harus bijak dan kontekstual. Tidak perlu memaksakan istilah atau gaya komunikasi tertentu, tetapi penting untuk menjaga prinsip dasarnya: tidak memaksa, tidak melanggar, dan tidak merendahkan martabat orang lain.
Pada akhirnya, konsen dan boundaries adalah tentang keseimbangan — antara diri dan orang lain, antara kebebasan dan tanggung jawab, antara hak pribadi dan harmoni sosial.
Dan mungkin, di situlah letak kedewasaan dalam relasi manusia.
