Industri produk digital tumbuh sangat cepat dalam satu dekade terakhir. Course online, kelas bisnis, e-learning, dan program mentoring menjamur di berbagai platform. Banyak orang berharap edukasi digital menjadi jalan keluar dari keterbatasan akses pendidikan formal. Namun, seiring pertumbuhannya, muncul pertanyaan penting: apakah industri produk digital masih benar-benar mendidik, atau sekadar menjual harapan?
Pertumbuhan Pesat yang Tidak Selalu Sehat
Tidak dapat dipungkiri, produk digital menawarkan banyak keunggulan:
-
Fleksibel
-
Bisa diakses kapan saja
-
Relatif murah dibanding pendidikan formal
Namun, pertumbuhan yang terlalu cepat sering kali mengorbankan kualitas. Banyak course dibuat bukan karena kebutuhan pasar akan edukasi, tetapi karena potensi pasar yang menggiurkan.
Ketika edukasi diperlakukan sebagai komoditas semata, orientasinya pun berubah:
dari membantu orang belajar, menjadi sekadar memastikan produk terjual.
Harga Tinggi Tidak Selalu Berbanding Lurus dengan Nilai
Salah satu kesalahpahaman terbesar dalam dunia course online adalah anggapan bahwa semakin mahal harganya, semakin tinggi kualitasnya. Pada kenyataannya, banyak produk digital berharga tinggi yang hanya berisi:
-
Materi umum
-
Teori berulang
-
Studi kasus tanpa konteks
-
Rekaman tanpa interaksi
Masalah utama kebanyakan peserta sebenarnya bukan kekurangan informasi, melainkan:
-
Tidak tahu cara memulai
-
Tidak konsisten
-
Tidak punya sistem kerja
-
Mudah menyerah ketika gagal
Sayangnya, banyak course justru berhenti di tahap “memberi tahu”, bukan “membimbing”.
Edukasi vs Motivasi Semu
Banyak produk digital hari ini lebih mirip konten motivasi daripada edukasi. Bahasa yang digunakan penuh dengan janji:
-
Cepat
-
Mudah
-
Terbukti
-
Anti gagal
Padahal, dalam proses belajar apa pun—bisnis, skill, atau karier—kegagalan adalah bagian yang tidak terpisahkan. Ketika produk digital hanya menampilkan sisi manis, peserta menjadi tidak siap menghadapi realita.
Akibatnya, saat hasil tidak sesuai harapan, yang disalahkan adalah diri sendiri, bukan sistem pembelajaran yang memang tidak dirancang untuk mendampingi proses jangka panjang.
Masalah Utama Bukan Kurang Ilmu, Tapi Kurang Sistem
Banyak orang telah membeli berbagai course, membaca buku, menonton ratusan jam video, namun tetap tidak bergerak ke mana-mana. Ini bukan karena mereka malas atau tidak mampu, melainkan karena:
-
Tidak ada struktur eksekusi
-
Tidak ada target realistis
-
Tidak ada evaluasi
-
Tidak ada accountability
Ilmu tanpa sistem hanya akan menjadi konsumsi, bukan transformasi.
Ketika Marketing Lebih Dominan daripada Substansi
Dalam industri produk digital, kemampuan marketing sering kali lebih menentukan kesuksesan penjual dibanding kualitas materi. Copywriting yang emosional, testimoni yang dikurasi, serta narasi sukses instan membuat banyak orang tergoda.
Masalahnya, marketing yang terlalu agresif dapat menciptakan ekspektasi palsu. Ketika janji tidak sejalan dengan realita, kepercayaan pun runtuh.
Edukasi seharusnya membangun kesadaran, bukan ilusi.
Course Bukan Jalan Pintas Kehidupan
Course online bukanlah musuh. Ia tetap bisa menjadi alat belajar yang bermanfaat jika digunakan dengan tepat. Namun, menjadikannya sebagai solusi utama kehidupan adalah kesalahan besar.
Tidak ada course yang bisa:
-
Menggantikan disiplin
-
Menumbuhkan mental tahan banting secara instan
-
Menjamin hasil tanpa usaha nyata
Perubahan hidup selalu melibatkan proses panjang, kegagalan berulang, dan keputusan untuk terus bertahan meski tidak ada yang bertepuk tangan.
Pendekatan yang Lebih Sehat terhadap Produk Digital
Agar tidak terjebak dalam siklus membeli tanpa bertumbuh, beberapa prinsip berikut bisa diterapkan:
-
Fokus pada praktik, bukan konsumsi
-
Pilih course yang menekankan proses, bukan janji
-
Ukur progres dari tindakan, bukan motivasi
-
Bangun skill dari masalah nyata
-
Terima bahwa hasil membutuhkan waktu
Produk digital hanyalah alat bantu. Yang menentukan tetaplah manusia di balik layar.
Kesimpulan: Edukasi Digital Harus Kembali ke Tujuan Awal
Industri produk digital tidak sepenuhnya salah. Yang perlu diperbaiki adalah cara pandang terhadap edukasi itu sendiri. Selama pembelajaran dijual sebagai jalan pintas, kekecewaan akan terus berulang.
Edukasi sejati tidak menjanjikan hasil instan, tetapi membekali cara berpikir, keberanian mencoba, dan ketahanan menghadapi kegagalan.
Dan sering kali, kemajuan terbesar justru datang bukan dari course mahal, melainkan dari keberanian memulai, konsistensi kecil, dan kesediaan belajar dari kenyataan.

